Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kekuasaan Tidak Pernah Kekurangan Penonton—Yang Langka Adalah Kawan Seperjuangan. Oleh: Mulyadi, S.Pd., C.IJ., C.PW., C.PS.

Sabtu, 02 Mei 2026 | Mei 02, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T15:43:20Z
Kekuasaan Tidak Pernah Kekurangan Penonton—Yang Langka Adalah Kawan Seperjuangan
Oleh: Mulyadi, S.Pd., C.IJ., C.PW., C.PS.

Kekuasaan selalu punya panggung, dan setiap panggung pasti dipenuhi penonton. Tepuk tangan datang tanpa diminta, pujian mengalir tanpa seleksi. Tetapi di balik riuh itu, ada satu hal yang nyaris tidak pernah hadir dalam jumlah yang cukup: kawan seperjuangan yang tetap berdiri ketika lampu mulai redup.
Di fase awal, ketika kuasa baru berpindah tangan, kerumunan hadir seperti arus pasang yang tak bisa dibendung. Mereka membawa bahasa yang sama—dukungan, loyalitas, kebersamaan—tetapi tidak selalu dengan makna yang sama. Sebagian besar tidak datang untuk berjuang, melainkan untuk memastikan posisi dalam orbit kekuasaan. Mereka bukan bagian dari fondasi, melainkan bagian dari pergerakan oportunitas. Selama distribusi kepentingan masih mengalir ke arah mereka, kedekatan dipertahankan. Ketika arus berubah, mereka pergi tanpa jejak, tanpa rasa bersalah.
Di titik inilah kekuasaan muda sering gagal membaca realitas. Ia mengira keramaian adalah kekuatan, padahal sering kali hanya ilusi yang diproduksi oleh kepentingan. Ia merasa kokoh karena dikelilingi banyak orang, padahal sesungguhnya berdiri di atas dukungan yang rapuh dan bersyarat. Lebih berbahaya lagi, ia mulai menukar ketulusan dengan akses, dan mengganti kejujuran dengan kenyamanan semu.
Sementara itu, mereka yang sejak awal berjalan dalam sunyi—yang tidak membawa proposal, tidak menuntut posisi, dan tidak pandai menjual kedekatan—justru perlahan tersisih. Mereka bukan tipe yang memanfaatkan momentum, karena kehadiran mereka tidak pernah berbasis momentum. Mereka bertahan karena keyakinan, bukan karena peluang. Loyalitas mereka tidak bisa dinegosiasikan, karena tidak pernah dimulai dengan transaksi.
Ironinya, kekuasaan justru sering mengabaikan mereka. Terlalu sibuk melayani lingkaran yang bising, terlalu cepat memberi ruang pada yang terlihat aktif, tetapi luput merawat yang diam namun kokoh. Dalam jangka pendek, pilihan ini terasa menguntungkan—lingkaran tampak hidup, dukungan terlihat luas. Namun dalam jangka panjang, ini adalah kesalahan strategis yang mahal: fondasi dibiarkan retak, sementara dekorasi terus dipercantik.
Kekuasaan yang tidak mampu membedakan antara loyalitas dan kepentingan pada akhirnya sedang menulis nasibnya sendiri. Ia membangun lingkaran yang mudah penuh, tetapi juga mudah kosong. Ia menciptakan kedekatan yang cepat tumbuh, tetapi lebih cepat runtuh. Dan ketika masa sulit datang—ketika keputusan tidak lagi populer, ketika distribusi tidak lagi merata—lingkaran itu akan menyusut dengan sendirinya, menyisakan ruang yang luas namun hampa.
Kesepian di ujung kekuasaan bukan tragedi yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari kesalahan membaca manusia sejak awal. Ia lahir dari kegagalan membedakan siapa yang berdiri karena nilai, dan siapa yang berdiri karena nilai tukar. Dan ketika semuanya mulai sunyi, barulah disadari: yang tersisa hanyalah mereka yang sejak awal tidak pernah pergi—mereka yang dulu tidak dianggap penting.
Opini ini tidak menawarkan romantisme tentang loyalitas. Ia justru mengingatkan dengan tegas: kekuasaan tanpa kemampuan memilah manusia adalah kekuasaan yang sedang menggali kesendiriannya sendiri. Bukan di akhir masa jabatan, tetapi sejak hari pertama ia lebih percaya pada suara yang keras daripada hati yang setia.
×
Berita Terbaru Update