Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Senyum Anak Pedalaman, Ada Infrastruktur yang Gagal DibangunOleh: Doni Sanjaya Saputra — Demisioner Ketua IPPM-OT

Rabu, 19 November 2025 | November 19, 2025 WIB Last Updated 2025-11-20T06:12:09Z

Di Balik Senyum Anak Pedalaman, Ada Infrastruktur yang Gagal Dibangun

Oleh: Doni Sanjaya Saputra — Demisioner Ketua IPPM-OT

Di tengah derasnya arus sungai yang meluap, beberapa anak kecil tampak berjalan perlahan sambil saling menggenggam tangan—bersama guru mereka—menuju lokasi lomba senam yang diselenggarakan PGRI Orong Telu. Bukan untuk berwisata, bukan pula untuk bermain. Mereka sedang berjuang menembus medan alam demi sebuah kegiatan pendidikan. Momen ini memang terlihat indah dalam bidikan kamera, tetapi sesungguhnya menyimpan luka sosial: di balik senyum mereka, negara sedang absen.

Inilah wajah asli pedalaman Orong Telu—wilayah yang hingga hari ini dipaksa berdamai dengan jalan rusak, jembatan yang tak pernah dibangun, dan sungai yang setiap musim hujan berubah menjadi ujian keberanian. Jarak antar-desa yang terjal, cuaca ekstrem, serta kondisi geografis yang berat seolah menjadi “rutinitas” yang harus diterima masyarakat, meski pada kenyataannya mereka tidak pernah diberi pilihan lain.

Lalu pertanyaannya: sejak kapan keselamatan anak-anak menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan?
Bukankah ini bagian sah dari Republik Indonesia yang dijanjikan hak atas pendidikan dan infrastruktur yang layak sebagaimana amanat konstitusi?

Di mana letak tanggung jawab negara ketika akses jalan masih bertumpu pada susunan batu dan tanah licin, sementara warga harus menyeberangi sungai yang sewaktu-waktu bisa meluap? Mengapa keselamatan anak-anak pedalaman seperti Orong Telu seolah tak pernah masuk daftar prioritas pembangunan?

Orong Telu dikenal dengan cuacanya yang ekstrem, perbukitan curam, dan jarak permukiman yang berjauhan. Kondisi seperti ini seharusnya mendorong pemerintah untuk bergerak lebih cepat, bukan justru menunggu sampai anak-anak menjadi korban. Namun faktanya, jalan penghubung masih banyak yang hancur, jembatan tak juga terwujud, dan aktivitas pendidikan sering kali bergantung pada keberanian, bukan pada fasilitas yang tersedia.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?
Pemerintah daerah? Pemerintah provinsi? Para wakil rakyat?
Atau semua pihak yang setiap musim pemilu datang membawa janji, namun setelah menang tak benar-benar kembali?

Ironinya, justru anak-anak yang menjadi simbol harapan itu sendiri yang bergerak paling nyata. Tanpa fasilitas memadai, mereka menantang derasnya sungai dan medan berat demi mengikuti lomba senam PGRI. Keberanian ini bukan sekadar semangat mengikuti kegiatan sekolah—ini adalah tamparan keras bagi pihak-pihak yang seharusnya hadir, namun memilih diam.

Kisah anak-anak Orong Telu adalah bukti bahwa negara belum sepenuhnya hadir. Mereka melawan sungai demi hak pendidikan, sementara infrastruktur dasar masih jauh dari kata layak.

Pemerintah harus berhenti menyusun janji dan mulai membuktikan tanggung jawabnya.
Orong Telu tidak menuntut kemewahan—hanya jalan yang aman, jembatan yang layak, dan perhatian yang setara dengan daerah lain.

Jika hari ini anak-anak bergerak lebih dulu dibanding pejabatnya, maka ada yang sangat keliru dalam prioritas pembangunan.

CEO:NEX Media
Mulyadi,S.Pd.,C.IJ.,C.PW.,C.PS.,C.HL

×
Berita Terbaru Update