Gerakan Sunyi dari Rhee: Ketika Kepemimpinan Menyapa Tanah dan Kesadaran
CEO:NEX Media
Mulyadi,S.Pd.,C.IJ.,C.PW.,C.PS
SUMBAWA,6 /4/2026—Pagi itu, di Kecamatan Rhee, tidak ada panggung megah. Tidak ada tepuk tangan yang riuh. Yang ada hanyalah tanah yang disentuh tangan-tangan sederhana, dan sampah yang diangkat dengan kesadaran yang perlahan tumbuh.
Di tengah suasana itu, Wakil Bupati Sumbawa, Mohamad Ansori, hadir bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari gerakan kecil yang mencoba merawat harapan: gotong royong.
Kegiatan yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat tersebut dipusatkan di kawasan wisata kuliner jagung—sebuah ruang yang seharusnya menjadi wajah kebanggaan daerah, namun tak luput dari persoalan klasik: sampah.
Langkah ini bukan tanpa latar. Ia merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi penanganan persampahan yang digelar sebelumnya, yang mengungkap fakta yang tidak mudah diterima—menjamurnya tempat pembuangan sampah (TPS) liar di berbagai sudut Kabupaten Sumbawa. Dari pinggir jalan, fasilitas umum, hingga bantaran sungai, sampah tak lagi sekadar persoalan kebersihan, tetapi telah menjadi cermin dari cara kita memperlakukan ruang hidup.
Di hadapan realitas itu, Ansori tidak memilih retorika tinggi. Ia memilih kalimat yang sederhana, namun menggugah:
“Kita tidak ingin lagi melihat sampah dibuang sembarangan. Semua pihak harus terlibat aktif untuk menjaga kebersihan lingkungan.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun di baliknya, tersimpan kegelisahan yang barangkali selama ini kita abaikan. Bahwa kebersihan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab moral setiap individu yang menginjakkan kaki di tanah ini.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif yang melampaui sekadar aksi sesaat. Bahkan, ia mendorong agar pesan-pesan kebersihan disampaikan dari mimbar-mimbar masjid—ruang sakral yang selama ini menjadi tempat manusia menundukkan diri, tetapi mungkin belum sepenuhnya menjadi tempat membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Ajakan itu bukan tanpa makna. Ia seperti ingin mengingatkan bahwa iman, pada akhirnya, juga tercermin dari cara kita memperlakukan bumi.
Sebelum tiba di Rhee, pagi itu Ansori juga melakukan inspeksi mendadak ke Dinas Perhubungan Kabupaten Sumbawa. Di sana, ia berdiri sebagai pembina apel, mengamati langsung bagaimana pelayanan publik dijalankan. Sebuah pesan diam disampaikan: bahwa perubahan tidak cukup dimulai dari luar, tetapi juga harus tumbuh dari dalam sistem itu sendiri.
Apa yang terjadi di Rhee mungkin tidak akan menjadi berita besar. Tidak ada angka spektakuler, tidak ada seremoni yang viral. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Bahwa perubahan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan.
Bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi lama yang dilestarikan, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan—di tengah zaman yang kian individualistik.
Dan bahwa di balik setiap sampah yang diangkat, ada harapan yang sedang diperjuangkan: tentang lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih sadar, dan masa depan yang lebih layak untuk diwariskan.
Pagi itu di Rhee, mungkin tidak semua orang menangis.
Namun jika kita mau jujur, ada sesuatu yang diam-diam tersentuh—bahwa negeri ini masih memiliki harapan, selama masih ada tangan-tangan yang mau bergerak, tanpa menunggu tepuk tangan.