Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menjaga Jejak Sejarah Tanah Samawa, Wabup Ansori Kawal Revitalisasi Tiga Cagar Budaya

Kamis, 03 September 2026 | September 03, 2026 WIB Last Updated 2026-09-03T13:57:42Z

JAKARTA — Sebuah daerah tidak hanya diwariskan melalui nama dan wilayah. Ia juga meninggalkan jejak dalam bentuk sejarah, kebudayaan, arsitektur, serta kisah yang melekat pada perjalanan masyarakatnya.
Di Tanah Samawa, jejak itu antara lain tersimpan pada bangunan-bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri dan menjadi bagian dari identitas Sumbawa.
Karena itu, ketika upaya revitalisasi dilakukan, yang dirawat bukan semata-mata bangunan secara fisik. Ada nilai sejarah dan kebudayaan yang ikut dijaga agar tetap dapat dikenali oleh generasi mendatang.
Semangat tersebut menjadi bagian dari langkah Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, yang melakukan koordinasi dengan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Agus Widiatmoko, di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas perkembangan dan penguatan koordinasi terkait revitalisasi tiga bangunan bersejarah di Sumbawa, yakni Istana Dalam Loka, Istana Bala Kuning, dan Istana Bala Putih.
Ketiga bangunan tersebut telah menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan kebudayaan Sumbawa. Pemerintah Kabupaten Sumbawa sebelumnya juga telah mengajukan ketiganya untuk memperoleh dukungan penanganan melalui Kementerian Kebudayaan.
Mengawal dari Hulu, Menjaga Sampai Hilir
Dalam pekerjaan pelestarian cagar budaya, ketelitian pada tahap awal menjadi sangat penting.
Revitalisasi bukan sekadar mengganti bagian bangunan yang rusak atau memperindah tampilan. Setiap tahapan perlu memperhatikan karakter dan nilai sejarah yang melekat pada bangunan.
Karena itu, pembahasan mengenai Detail Engineering Design (DED) memiliki arti strategis.
Perencanaan teknis menjadi salah satu fondasi agar proses penanganan dapat dilakukan secara terukur dan tetap memperhatikan prinsip pelestarian.
Langkah koordinasi yang dilakukan Wakil Bupati Sumbawa menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menjaga agar proses tersebut berjalan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik dengan pemerintah pusat.
Terlebih, perkembangan revitalisasi tiga bangunan tersebut telah memasuki tahapan perencanaan. Tim terkait juga telah melakukan dokumentasi kondisi awal sebagai bagian dari persiapan sebelum pekerjaan pemugaran.
Di titik inilah pengawalan menjadi penting.
Bukan untuk mempercepat sesuatu dengan mengabaikan proses, melainkan memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan, perencanaan, dan prinsip konservasi yang diperlukan.
Sejarah Bukan Sekadar Masa Lalu
Istana Dalam Loka, Bala Kuning, dan Bala Putih bukan hanya memiliki nilai dari bentuk fisiknya.
Ketiganya menyimpan cerita tentang perjalanan Sumbawa dan menjadi bagian dari identitas sejarah masyarakat Tanah Samawa. Sejumlah sumber juga mencatat ketiga bangunan tersebut sebagai bagian dari cagar budaya Sumbawa.
Karena itu, pelestarian memiliki makna yang lebih luas.
Generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung peninggalan sejarah daerahnya. Mereka tidak hanya membaca sejarah melalui buku, tetapi juga dapat mengenali ruang dan bangunan yang menjadi saksi perjalanan masa lalu.
Dari sana tumbuh kesadaran bahwa kemajuan sebuah daerah tidak harus membuat masyarakat melupakan akar budayanya.
Justru sebaliknya.
Semakin jauh sebuah daerah melangkah ke masa depan, semakin penting ia mengetahui dari mana ia berasal.
Dari Warisan Budaya Menuju Manfaat Ekonomi
Revitalisasi juga membuka peluang untuk mengembangkan pemanfaatan warisan budaya secara berkelanjutan.
Ketika kawasan bersejarah ditata dan dikelola dengan baik, ia dapat menjadi ruang edukasi sekaligus destinasi wisata budaya.
Dampaknya dapat berkembang lebih luas melalui keterlibatan masyarakat, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, seni tradisi, jasa pariwisata, dan berbagai aktivitas ekonomi pendukung lainnya.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelamatan bangunan.
Ia dapat menjadi bagian dari pembangunan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Namun, semua itu membutuhkan pengelolaan yang cermat. Nilai sejarah tetap harus menjadi pijakan utama agar pemanfaatan tidak menghilangkan karakter dan makna warisan yang hendak dilestarikan.
Merawat yang Lama, Menyiapkan yang Baru
Langkah Wakil Bupati Sumbawa melakukan koordinasi langsung dengan Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa agenda pelestarian membutuhkan kerja bersama dan kesinambungan.
Pemerintah daerah, pemerintah pusat, para ahli, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan memiliki ruang masing-masing dalam menjaga warisan budaya.
Sebab, menjaga sejarah bukan pekerjaan satu hari.
Ia membutuhkan perencanaan, ketelitian, kesabaran, dan komitmen untuk memastikan apa yang diwariskan oleh generasi terdahulu tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.
Pada akhirnya, revitalisasi tiga bangunan bersejarah tersebut bukan hanya tentang bagaimana membuat sebuah bangunan kembali kokoh.
Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar untuk memastikan identitas Tanah Samawa tetap memiliki ruang untuk hidup di tengah perubahan zaman.
Sebab ketika sebuah warisan sejarah dirawat, sesungguhnya sebuah daerah sedang mengatakan kepada generasi mendatang:
Bahwa kami pernah ada, kami memiliki sejarah, kami memiliki kebudayaan, dan kami memilih untuk menjaganya.
Dari sanalah masa depan dapat dibangun—bukan dengan melupakan masa lalu, tetapi dengan menjadikannya sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Pimred:Nex-Media
Mulyadi,S.Pd.,C.IJ.,C.PW.,C.PS
×
Berita Terbaru Update