Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wabup H.Ansori: Jadikan Sejarah sebagai Suluh Masa Depan Sumbawa

Kamis, 27 Agustus 2026 | Agustus 27, 2026 WIB Last Updated 2026-08-27T11:00:58Z

SUMBAWA BESAR — Sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Ia adalah ruang untuk membaca perjalanan sebuah daerah, memahami jati diri masyarakat, sekaligus menemukan pijakan dalam menentukan arah masa depan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku “Pulau Sumbawa Tahun 1847” karya Heinrich Zollinger yang digelar di Auditorium Universitas Samawa, Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Sumbawa, Dandim 1607 Sumbawa atau yang mewakili, sejumlah Kepala OPD terkait, Ketua Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Samawa, Rektor Universitas Samawa beserta jajaran, pimpinan perguruan tinggi, para pembedah buku, serta forum kepala desa tingkat kabupaten dan kecamatan se-Kabupaten Sumbawa.
Dalam kesempatan tersebut, Wabup Ansori menyampaikan apresiasi kepada Universitas Samawa dan seluruh pihak yang telah menggagas kegiatan kajian sejarah tersebut. Menurutnya, forum semacam ini penting karena dapat membuka ruang lahirnya gagasan, pemikiran, dan kajian baru mengenai Sumbawa.
“Pemerintah daerah bangga dan mengapresiasi atas terselenggaranya bedah buku ini. Dari sinilah akan muncul ide-ide, gagasan, bahkan kajian-kajian. Hasil bedah buku ini nantinya juga dapat kita gunakan,” ujar Ansori.
Ia menilai, sejarah memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran masyarakat, terutama di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Sumbawa, kata dia, merupakan wilayah yang memiliki bentang sosial dan budaya yang beragam sehingga pembangunan tidak cukup hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ansori, terdapat tantangan besar yang harus dijawab bersama: bagaimana Sumbawa dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan modernitas tanpa kehilangan akar budaya dan identitas masyarakatnya.
“Apakah Sumbawa ini akan mempertahankan tradisionalnya, ataukah Sumbawa ini akan kita bawa menjadi kota metropolitan. Ini kondisi yang hari ini kita saksikan,” katanya.
Namun, bagi Ansori, pilihan tersebut tidak harus ditempatkan sebagai pertentangan antara tradisi dan kemajuan. Justru, pembangunan masa depan harus mampu mempertemukan keduanya dalam sebuah proses peradaban yang berakar pada identitas daerah.
“Masyarakat harus menjadi masyarakat yang tidak ketinggalan zaman, tapi di sisi lain tradisi budaya kehidupan masyarakat harus kita pertahankan. Ini yang kita namakan peradaban yang kita jaga dan kita wariskan kepada anak cucu kita,” tegasnya.
Sejarah sebagai Suluh
Mengaitkan kegiatan bedah buku dengan pengalaman masa lalu, Ansori menggunakan filosofi “suluh” sebagai gambaran bagaimana sejarah seharusnya ditempatkan dalam kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan, suluh merupakan penerang yang digunakan untuk membantu seseorang menemukan arah dalam kegelapan. Dalam konteks kehidupan daerah, sejarah dapat menjalankan fungsi serupa: menerangi pemahaman masyarakat agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan.
“Kalau kami dulu masih kecil ada bahasa ‘menyuluh’, membawa obor untuk mencari dengan penerangan. ‘Suluh’ ini artinya penerang. Sama dengan Sumbawa. Sejarah kalau kita ungkap tidak akan habis-habis. Kalau kita lestarikan dan kita budayakan, sejarah itu akan membawa dampak kepada generasi muda,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan bahwa mempelajari sejarah tidak berhenti pada aktivitas mengingat peristiwa masa lalu. Lebih jauh, sejarah harus mampu membentuk kepribadian, karakter, dan cara pandang generasi dalam menghadapi masa depan.
“Kalau masyarakat tidak punya kepribadian, pembangunan yang dilakukan tidak punya arah. Tidak ada tangan, tidak ada semangat,” ujarnya.
Pandangan tersebut menempatkan sejarah bukan sebagai sesuatu yang hanya tersimpan di dalam buku, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami perjalanan masyarakat dan merumuskan masa depan.
Dari Buku Menjadi Pengetahuan
Buku “Pulau Sumbawa Tahun 1847” yang diterjemahkan oleh Poetra Adi Soerjo dari naskah yang berasal dari abad ke-19 menjadi salah satu pintu untuk melihat Sumbawa dari perspektif sejarah.
Wabup Ansori menyampaikan apresiasi kepada para pembedah yang turut memberikan perspektif akademik dan historis dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. H. Iwan Jazadi, Ph.D, Ketua STKIP Paracendekia NW Sumbawa, Dr. Burhanuddin, M.Hum., akademisi dan peneliti Universitas Mataram, serta Nurdin Ranggabrani, S.H., M.H., penulis dan sejarawan.
Menurutnya, keberadaan buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran yang terus dikembangkan untuk kepentingan pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan daerah.
“Kami yakin nanti ada kenang-kenangan dari buku ini untuk bisa kami pelajari sehingga menjadi pedoman kehidupan sehari-hari di Kabupaten Sumbawa,” tutupnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil bedah “Pulau Sumbawa” oleh Wakil Rektor Universitas Samawa, Muhammad Yamin, S.E., M.Si., kepada Wakil Bupati Sumbawa. Penyerahan tersebut turut didampingi para pembedah buku.
Dari ruang akademik Universitas Samawa, pesan yang dibawa menjadi sederhana namun memiliki makna panjang: masa depan tidak harus meninggalkan sejarah. Justru, dengan memahami sejarah, sebuah daerah dapat melangkah lebih percaya diri menuju perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.

Pimred:Nex-Media
Myd
×
Berita Terbaru Update